Sabtu, 26 November 2011

Sedikit Tempat Untuk Kekayaan

Sudah lama sejak rutinitas hanyalah pengalihan kebimbangan dari hal yang saya anggap ideal . warung kopi, sendiri. Tidak biasa memang akhir-akhir ini meminjam waktu di warung kopi sendirian. Selalu ada kawan atau kawan-kawan yang mengisi ruang sempit dengan obrolan-obrolan yang terkadang sepele sampai hal-hal yang tidak patut untuk diabaikan. Dalam persepsi saya, sadar tidak sadar, kawan untuk berbincang adalah seperti keharusan yang ada jika saya ingin menghabiskan jeda waktu di sebuah warung kopi, atau apapun tempat yang membuat saya bisa duduk, menghisap rokok, ditemani kopi atau minuman khas lainnya yang tersedia.
Bukan tanpa alasan kali itu saya sendiri. Kondisinya memang tidak memungkinkan dan menginginkan untuk menghubungi beberapa teman. Pukul 00.00 pas saya tiba di warung kopi. Warung kopi yang cukup dekat dengan rumah saya, dan saya putuskan untuk singgahi beberapa jam melepas kepenatan sepulang dari kesibukan yang bertambah, kesibukan tidak produktif lainnya? saya harap tidak lagi.
Bangku di ujung dekat pintu masuk yang kedua, sudah terisi, oleh saya. Sekitar 50cm di sebelah kanan saya diisi oleh bapak-bapak yang yang saya perkirakan berumur 55 thn, yang sedang berbicang dengan temannya di sebelahnya. Diujung bangku sana terlihat seorang pria dan seorang wanita yang saya anggap sepasang kekasih (entah benar atau salah), dan nampaknya sudah selesai urusan mereka dengan warung kopi tersebut, mereka segera beranjak. Jadi sisanya hanya ada tiga pelanggan disitu, saya dan dua orang bapak-bapak. Yang satu nampak seperti pegawai yang baru pulang kerja, dan satunya seperti seorang pensiunan. Keduanya, saling berbincang.
Aneh. Tidak biasa lebih tepatnya, tapi sedikit familiar. Suara-suara perbicangan orang yang saya tidak kenal mengesek-gesek ruangan, terkadang jelas terkadang samar. Bukan sesuatu yang istimewa memang, hanya keadaan lumrah yang sudah lama tidak saya alami.
Satu jam dan tidak ada yang menarik selain menikmati waktu yang senggang ini ditemani rokok dan kopi. Objek visual hanyalah jam dinding, orang lain, jalan diluar, dan sekeliling ruangan di dalam warung. Visual yang terus sama, terkadang samar digeser lamunan, terkadang jelas, terkadang samar digeser lamunan, terkadang jelas. Tempo yang hening dari suasana pinggiran kota yang lelah. Terkadang diisi suara kendaraan yang lewat dengan jeda waktu yang lumayan lama. Intonasi suara perbincangan di dalam ruangan yang naik turun, terkadang berhenti menghormati keheningan. Begitulah siklus empiris ditawarkan warung kopi kala itu.
Perbincangan yang terjadi hanya dilakukan dua pelanggan lainnya selain saya, perbicangan dari kedua orang yang sudah berumur senja, semakin mendominasi bunyi dalam ruangan. Seolah memaksa saya untuk mencuri dengar. Perbincangan dilakukan dengan suara rendah yang menggelitik, bahkan terdengar berbisik, mengundang minat saya tanpa maksud apapun, hanya untuk menghamburkan waktu.
Bank, perusahaan, karyawan, kecurangan. Hanya kata-kata itu yang mampu saya dengar karena sering di ucapkan. Sebagian besar sisanya adalah bagian-bagian perbincangan yang bocah kemarin sore ini tidak bisa mengerti maksudnya. Mungkin isltilah-istilah yang belum saya alami, dan sudah lumrah untuk kedua orang ini.
aroma-aroma kapitalis dari kata-kata yang saya tangkap tadi, nampaknya semakin kental larut dalam perbincangan mereka. Terkadang diselipi tawa geli, mececap kopi, anggukan, menghisap rokok, dan berbagai bahasa tubuh khas ang melekat. Meskipun saya tidak mengerti pasti apa yang mereka perbincangkan, tapi sangat menyenangkan menyimak perbincangan para veteran kehidupan yang mungkin mereka sudah mengalami langsung kesialan dari adanya para rakus penduduk atas strata sosial masyarakat, yang biasa kita namakan kaum elit. Sedikit memberi rasa asin dari kopi yang saya teguk saat itu.
“ saya jadi punya kesimpulan pak, kalo mau kaya raya di Indonesia itu bukan jadi orang pinter, tapi jadi orang licik” ujar salah satu dari mereka. Hisapan saya pun berhenti, ungkapan yang tidak perlu saya cerna ini terbuang bersama asap rokok dari mulut saya. Sialnya tidak terbuang, malahan larut dengan kopi yang selanjutnya saya teguk. Akhirnya menggantung dalam pikiran saya.
Dulu beberapa tahun kebelakang ketika saya akan menginjak masa-masa kelulusan SMA, Masalah financial ini yang sempat menjadi topic hot untuk diperbincangkan dalam beberapa periode oleh saya dan teman-teman. Bahkan bumbu perbincangan seperti silang pendapat sering terjadi, masalah kebebasan finansial tentunya. Pada saat itu saya cenderung untuk tidak terlalu mengejarnya. Rasa idealisme yang menjadi pembenaran lah yang mengatakan bahwa apa gunanya hidup sangat mapan bergelimang uang, sementara hal itu di dapat dengan cara-cara licik? seperti akan membahayakan jiwa saya ketika setiap keuntungan mengucur ke dalam kantong saya. Karena dari apa yang saya coba cermati, nyatanya, keadaan sekarang ini, sangat tidak memungkinkan untuk mencapai kebebasan financia denganl cara yang jujur, ketika cara-cara kotorlah yang medominasi praktek penghimpunan sumber daya, atau lebih kita kenal menghimpun uang. Pasti selalu akan ada cara kotor entah itu untuk sekedar persaingan, melindungi aset, atau mempromosikan usaha kita. Karena sudah menjadi rahasia umum mereka para elit-elit kekayaan mempraktekan cara-cara itu. Dan sialnya kita-lah yang menjadi korban, atau lebih tepatnya beban paling besar harus ditanggung mereka yang hidup sangat jauh dari segala akses menuju uang, entah itu koneksi, informasi, pengetahuan, bahkan segala makanan yang mendukung keuntungan secara fisik dan kecerdasan.
Seperti seorang murid yang baru dibenarkan oleh gurunya mengenai pendapat yang telah dikemukakannya pada saat itu. Ada kebanggaan merusak yang menjalar, ikut menemani perjalanan pikiran saya mengantarkan ke masa lalu. Mengingat masa-masa ketika baru akan lulus dari SMA. Ketika semua optimisme, semangat muda, harapan besar, dan keinginan yang meledak-ledak menerbangkan khayal akan keinginan memiliki perusahaan yang besar yang memiliki lebih dari satu juta karyawan. Memiliki rumah peristirahatan pada sebuah pulau milik pribadi. Memiliki kapal pesiar, jet pribadi, dan segala yang bisa dicontohkan oleh para elit kaya. Hal itulah yang saya perbincangkan bersama teman-teman. saat-saat menyenangkan ketika hal tersebut bisa didapat dengan kerja keras yang tiada habisnya. Tapi begitu membingungkan ketika hari-hari mengantarkan kami untuk mencicipi sedikit pahitnya realita, dan membawanya pada perdebatan panjang pada warung-warng kopi yang mungkin untuk disinggahi. Perbedaan pandangan pun terjadi, meskipun tidak dideklarasikan, kami jadi sedikit berbeda jalan. Mungkin ini yang dikatakan orang adalah masa-masa ketika idealisme dan realitas harus berbenturan.
Tapi kawan, sepertinya realitas yang selalu menang. Membuat kita sibuk mengurusi daun dan ranting. Yang pada musimnya akan selalu berguguran, yang dimakan ulat-ulat, yang berterbangan di tiup angin, yang rapuh dan kapan saja bisa dengan mudah untuk dihancurkan.