Selasa, 01 Januari 2013

NEW YEARS EVE(R) DAN RACAUAN TENTANGNYA YANG DOGMATIS


Mereka hingar ditengah ilusi, mereka bingar ditengah ilusi. Mereka hingar ditengah kebingungan, mereka bingar ditengah kebingungan. Kabar buruknya, mereka, adalah kita.


identik...
ide apapun yang berhubungan dengan malam tahun baru seolah menjadi sesuatu yang luar biasa  sekalipun, malam tahun baru itu bukan malam yang diterangi sinar matahari, atau setiap satu menitnya berjumlah 61 detik, atau jangkrik yang kali itu suaranya memainkan simfoni. Apapun itu nyatanya malam tahun baru hanyalah malam yang tetap sama seperti malam-malam lainnya, tidak membuatnya harus mengganti jadwal sekumpulan kelelawar untuk keluar dan mulai beraktivitas.


manusia...
Bahkan seorang tukang becak sekalipun akan menertawakan siapapun yang mengatakan bahwa yang membuat kembang api itu adalah seekor burung gereja.

inisiatif...
manusia bisa berinisiatif. Membuat berbagai hal yang membuat banyak hal menjadi berbeda. Membuat malam tahun baru yang secara subtansial adalah malam-malam yang tidak ada bedanya dengan malam lainnya, menjadi malam yang memiliki makna ditiap kepala-kepala manusia, ditiap hal-hal yang bisa mereka rasakan, sehingga membuatnya menjadi identik. Indentik dengan ledakan-ledakan kembang api, bunyi-bunyi terompet, suasana meriah dan berbagai pesta, manusia-manusia yang turun ke jalan, suka cita, dan banyak hal lainnya yang tidak harus disebutkan.

Beberapa waktu yang lalu, telah kita lewati pergantian tahun yang selalu semarak tiap tahunnya. Suka cita yang bertaburan dijalanan, diikuti suara-suara terompet yang saling menyahut menambah semarak malam yang langitnya dihiasi ledakan-ledakan kembang api di pusat keramaian di berbagai sudut angkasa. Hampir disemua tempat pada pusat-pusat keramaian di dunia dipenuhi oleh orang-orang yang berkumpul untuk menantikan saat-saat menegangkan dari momen yang terjadi setahun sekali ini. Termasuk di Indonesia, yang tidak pernah kalah menciptakan semarak yang begitu nyata.

Sebagai negara yang masyarakatnya tergolong sangat konsumtif, momen tahun baru seperti hari pemborosan masal, terlebih tawaran yang menggiurkan dari  toko-toko dan supermarket besar dengan diskon besar-besarannya semakin membenarkan pengalokasian uang yang berlebih. Arus deras keluar masuknya uang diberbagai tempat pusat perbelanjaan, meramaikan semarak pergantian tahun. Bahkan menjadi momen tepat pedagang kecil untuk ikut sedikit mencicipi manisnya laba yang meningkat. Mereka yang merasa muda dan modern sebagai target pasar nomor satu, tentunya tidak ingin tergeser posisinya sehingga perlombaan pemuasan keinginan termanifestasikan dalam transaksi jual beli, dengan mobilisasi yang sangat cepat, entah itu akurat, yang pasti di berbagai tempat.

Bumbu lain yang mewarnai semarak  tahun baru adalah interaksi dari orang ke orang yang terjadi secara serentak diberbagai tempat. Ketika hal tersebut  dilakukan dalam  waktu yang terbatas, dalam artian ide malam tahun baru (dengan berbagai histerianya)  harus terealisasikan diwaktu yang tepat yaitu pada pukul 00.00, maka ketika dilakukan secara masal akan membuat ledakan euphoria yang besar.

Euphoria yang besar tentunya akan menghasilkan sebuah histeria yang besar, terkadang berlebihan, sehingga memungkinkan terjadinya aksi-aksi diluar kendali. Hal tersebut menjadi alasan para aparat keamanan ikut ambil bagian melakukan kegiatan formalnya sebagai agenda tahunan, maka jadilah seragam-seragam polisi ikut mewarnai jalanan yang padat dimalam menjelang tahun baru.

Selanjutnya yang paling berperan dan bertanggung jawab atas terealiasasikannya ide malam tahun baru yang spektakuler ini adalah mereka-mereka yang datang kesetiap rumah, mengkonsumsi penghuninya, yang tidak pernah lelah dan mengenal waktu, yang keluar dari kotak bernama televisi. Selain tentunya juga mereka yang berbicara lewat tulisan yang datang setiap pagi, terkadang perbulan,  yang mengabarkan banyak hal, seringkali ironis, bahkan terkadang kental paradoksnya. Kita akan lebih mengenal mereka sebagai media. Mereka yang kuasanya menjadi perbicangan para aktivis-aktivis karena sudah terlalu menjemukan perilaku buruknya. Pergerakan arus media yang kini  semudah satu gerakan statis semakin memungkinkan masyarakat mengakses segala penipuan dan ilusi yang ditawarkan, atau yang lebih familiar kita kenal sebagai fakta dan hiburan. Tahun baru termasuk didalamnya.

Perjalanan waktu, telah menunjukan evolusi dari ras manusia yang perkembangannya semakin meningkat. Perkembangan manusia dengan artefak-artefaknya sebagai simbol peradaban, telah menunjukan kehidupan manusia yang dinamis. Menjadi bukti bahwa manusia adalah organisme paling unggul diantara organisme lain di muka bumi. 

Sejalan dengan itu manusia pun semakin kompleks laju kehidupan dan mobilisasinya. Segala pengetahuan membawa mereka pada kompleksitas rumit yang mengantarkan pada laju sungai-sungai kehidupan baru. Sungai-sungai yang mereka temukan sebagai penghantar mereka menuju laut kebebasan. Selanjutnya kompleksitas ini yang menjadi ukuran yang mereka sebut sebagai kemajuan.

Masih sejalan dengan itu, kemajuan mengatakan bahwa manusia pun semakin hilang makna akan dirinya. Atau lebih tepatnya kehilangan perilakunya. Perilaku yang mengatakan bahwa merawat alam, derajat sama antar sesama, dan cukup untuk hidup yang cukup,  adalah keharusan. Yang ada hanyalah kemunduran dari organisme ini yang membedakan dirinya dengan organisme lain, kearah yang lebih menyedihkan.

Pada akhirnya kemajuan tanpa perilaku ini berjalan beriringan dengan proses waktu, menjadi arus yang sangat deras dan tidak tertahankan. Arus kehidupan bergerak kearah yang sama, bahkan dari aspek terkecil kehidupan. Menciptakan kehidupan yang ilusi dari rangkaian waktu yang terus berjalan. Dan ketika penghitungan waktu mengantarkan mereka pada akhir tahun, mereka rayakan itu dalam sebuah pesta yang menjadi tradisi sejarah manusia dimanapun. Mereka  katakan bahwa akhir tahun adalah sebuah pencapaian. Pencapaian atas perbudakan terhadap sesama, mengarahkan satu dan yang lainnya untuk tetap hidup dan tetap dibunuh secara perlahan. Di tahun yang sebentar lagi akan datang, seolah yang kuat berkata :”lanjutkan kerusakan di bumi.."

Tahun baru adalah momen mereka yang masih tetap mengikuti perjalanan waktu. Tahun baru menjadi bergeser makna, atau entah sejak dulu masih tetap dalam makna syukur yang bias. Sehingga, menjadi manifestasi paling jelas dari arus ilusi yang hidup.

Tahun baru tetaplah ekspresi dari kebudayaan manusia. Sebuah tradisi yang diwariskan para pendahulu yang selalu lekat dengan makna perayaan. Ketika makna perayaan memiliki fungsi secara sosial, yang lebih  dikenal dengan konsep silaturahmi, maka akhirnya tahun baru menjadi sah-sah saja dengan segala hingar bingar yang berhamburan. Dengan segala tetek bengek kemeriahan dan suka cita yang ditampakan. Seolah, menyembunyikan kelelahan dan kesakitan dari manifestasinya.

Padahal, tahun baru semakin jelas menunjukan kenyataan bahwa pembagian strata sosial, seolah mengulang kembali zaman pembagian kasta. Tidak secara formal ini terbagi, bahkan para pelakunya pun tidak menganggap etis jika harus dideklarasikan. Namun sangat naif jika tidak menyadarinya. Diantara mereka akan menyadari dan mengerti, bahwa siapa yang pantas merayakan di jalanan ataupun pusat keramaian umum, dan siapa yang pantas merayakan di hotel ataupun arena berbayar lainnya. Lalu siapa yang mengajari mereka berlaku demikian?

Sebagai contoh, mungkin sangat mudah jika semua itu menunjuk “uang” sebagai sebab yang menjadikannya berarti. Menjadikan pembagian strata sosial lebih dimengerti. Karena uang, mampu mentransformasikan nilai dari materi menjadi harga. Menjadi rangkaian angka yang seolah bermakna nyata, bahkan sangat sulit membedakan kenyataan itu setelahnya. Hanya saja sangat tidak adil jika menyalahkan benda mati sebagai penyebab kesalahan. Karena tidak ada kritik yang lebih bodoh dari mengkritik sesuatu yang tidak mampu memutuskan, dan bertanggung jawab.


tahun baru dan yang sudah lalu

Suatu perayaan selalu terkait dengan pemaknaan. Karena perayaan sendiri selalu lekat manfestasinya dengan kebudayaan, karya-karya manusia. karya-karya, baik yang laten ataupun manifest, tidak lain adalah simbol dari kebermaknaan yang terakomodasi pada sebuah perayaan, yang telah dikondisikan dalam ruang dan waktu yang disepakati, atau bahkan dipaksakan.

Ketika kebudayaan hidup dan menghidupi manusia-manusia di dalamnya, selalu ada kecenderungan dari kebudayaan itu sendiri sebagai cara hidup manusia-manusianya, untuk mempertahankan dirinya, mempertahankan status quo-nya. Atau lebih tepatnya, bagaimana kebudayaan tu dipertahankan oleh mereka-mereka yang telah dihidupi dan menghidupi kebudayaan tersebut.

Ketika kebudayaan tersebut mengikuti arus waktu, yang katakanlah perkembangan kemajuan menjadi usaha yang terus menerus dituju, ruang jangkauan dari kebudayaan lama akan semakin terkikis karena adanya kebudayaan yang lebih perkasa ingin tampil. Maka bukan lagi sekedar gesekan yang terjadi, antara kemajuan sebagai kebudayaan baru dan kebudayaan lama yang cenderung untuk mepertahankan status quo-nya. Melainkan terjadinya saling hantam, saling menghancurkan, dan saling membunuh satu sama lain pada ruang-ruang yang keduanya saling bertemu. Yang dalam perjalanannya, terjadi berbagai bentuk hasil adaptasi, transformasi bentuk.

Kemajuan yang kebanyakan orang percaya sebagai suatu keniscayaan, entah bentuk kemajuan tersebut yang memunculkan artefak-artefak kebudayaan baru, ataupun ide-ide kebudayaan baru, akan tampil dengan bentuknya, setelah melindas habis kebudayaan-kebudayaan yang dianggap usang, untuk menghasilkan kekuasaan, yang tidak lain adalah kecenderungan manusia untuk bisa mendapatkan segala kesempatan menghidupi hasratnya yang selalu meminta dan tidak pernah selesai.

Hanya saja, entah karena semakin meng-hegemoni-nya sains unutk menjadi sebuah ‘agama’ baru, motif-motif dan bebagai keputusan dalam sebuah kemajuan dan pertarungan antar kebudayaan, sering di anggap sebagai pertarungan, dari mekanisme “yang tidak terlihat”, namun dianggap nyata. Padahal ketika kenyataan sendiri masih menjadi perdebatan dalam berbagai versi-nya, urusan kebudayaan sendiri masih cukup mampu untuk memperlihatkan bahwa dirinya dihidupi dan menghidupi manusia-manusia. maka sangatlah manusiawi ketika memandang motif-motif manusiawi yang ada pada manusia dalam upaya mereka mempertarungkan kebudayaan, menjadikan kebudayaan itu bersifat dinamis.

Seiring dengan kebudayaan yang katakanlah bersifat dinamis, perayaan tahun baru sebagai produk dari kebudayaan tentunya tidak akan terlepas dari dinamikanya. Dalam prosesnya yang adaptif, atau bahkan kematian dan kelahirannya, perayaan akan memiiki wajah sesuai dengan masanya. Hal ini akan berlaku pada tahun baru, jika kita anggap ia adalah sebuah perayaan.

Tahun baru dirayakan hampir diseluruh dunia. Hal ini sedikit memperlihatkan sejauh mana sebuah kemajuan yang didengung-dengungkan sebagai upaya pembangunan, memiliki pencapaian yang sangat spektakuler, dalam sebuah rangkaian zaman, selalu dalam bentuk, jika meminjam istilah yang dipopulerkan Marx, adalah sebuah pertarungan kelas.


tahun baru masehi dengan dan ketergantungan makna dirinya

Awal munculnya tahun baru masehi yang sering kita rayakan sekarang adalah meminjam sebagian tradisi orang-orang romawi kuno. Bukan tanpa alasan, perayaan tahun baru ini bertepatan dengan musim awal panen. Dalam perayaannya, mereka saling memberikan hadiah-hadian potongan dahan pohon suci, banyak pula yang saling memberikan kacang ataupun koin lapis emas dengan gambar dewa Janus. Dewa janus yang digambarkan bermuka dua, dengan satu muka menghadap kedepan dan satu mukanya lagi menghadap ke belakang, dipercaya sebagai dewa dari segala permulaan. Belakangan bulan Januari ditempatkan sebagai bulan diawal tahun, menggantikan kebiasan sebelumnya, dimana orang romawi kuno justru menempatkan bulan maret sebagai awal tahun. Sehingga  Pertukaran koin pun menjadi suatu penanda awal tahun, dan menjadi kebiasaan di tahun baru.

Kebiasaan memberikan hadiah ini dilakukan pula oleh orang-orang Persia kuno yang juga, merayakan tahun baru diawal musim panen. Mereka mempersembahkan hadiah telur di tahun baru sebagai lambang dari produktivitas.

Pemaknaan tahun baru sekarang, mengambil bagian dalam suatu pemaknaan atas suatu perayaan. Perayaan tersebut, adalah suatu pemaknaan terhadap kehidupan, cara hidup yang setiap tahun, mereka rayakan dan menjadi sebentuk usaha unutk memperingatinya.
Namun, pada perjalanannya, perayaan tersebut mengalami adaptasi-adaptasi perkembangan manusia, dinamisnya kebudayaan, bahakn kemajuan teknologi. Pemaknaan-pemaknaan terhadap tahun baru sendiri ikut beradaptasi mengikuti kebudayaan yang mapan pada masanya.

Sehingga akan sangat tidak mengherankan ketika pemaknaan tahun baru, yang orang katakan di era postmodernisme ini, hanyalah harapan-harapan pribadi yang akan lebih sering kita temui berderet rapi terpenjara dalam sebuah kata-kata yang tertera pada status-status jejaring sosial. Entah hasil dari didikan infotainment yang selalu mewawancarai para selebriti mengenai resolusi tahun depan jika sudah dekat akhir tahun.

Tidak bisa disangkal bahwa privatisasi yang dilakukan kebudayaan yang mapan saat ini bukan tanpa ketidaksengajaan, tapi peluang-peluang perkembangan zaman selalu menjadi pertimbangan yang mengarah pada upaya untuk mepertahankan status-quo  nya. Sehingga refleksi tahun baru yang begitu senjang dan materil, adalah bukan terjadi sebagai suatu keniscayaan, tetapi sebagai suatu bentuk disain hasil dari keputusan-keputusan yang terjadi dalam pertarungan politis. Karena hasrat yang terakomodasi secara masal telah lebih mampu di untuk uji dalam berbagai perayaan sebagai suatu komoditas kekuasaan.

Maka bolehlah pemaknaan tahun baru sekarang, dimaknai sebagai hasil dari lanjutan kerusakan-kerusakan di muka bumi,karena kini, apa yang begitu diusahaka selain kemajuan?



rujukan:internet

Tidak ada komentar: